Marrin News

Butiran Cinta dan 1000 Senyum Bertebaran di Pesisir Timur Tanimbar

Uskup Diosis Amboina Mgr. Seno (Inno) Ngutra saat ditandu menyusuri pantai dari Amdasa menuju Sangliat Dol. Sumber foto: Facebook Inno Ngutra

Oleh: Pastor Andreas Buarlele, MSC
Kepulauan Tanimbar, Maluku (Kamis, 19 Mei 2022)

MALUKU, MARRINNEWS.com - Perjumpaan membawa sukacita. Sukacita itu terukir dalam senyum yang manis. Terpancar dan membawa berkat bagi banyak orang. Butiran Cinta dan 1000 senyum kini bertebaran di Pesisir Timur Tanimbar.

Kehadiran Yang Mulia, Uskup Diosis Amboina Monsinyur (Mgr) Seno Ngutra di Pesisir Timur Bumi Duan-Lolat, membawa daya tarik dan magnet yang begitu kuat. Kangkir (anak-anak), tabweri-batdare (laki-laki dan perempuan), makene ma batmekene (orang tua) baik yang sehat maupun sakit rindu berjumpa dan mendapat berkat dari sang Gembala utama di Keuskupan Amboina.

Mulai dari Desa Amdasa, barisan penari menyambut kedatanganmu. Lantunan suara yang merdu dan khas terdengar, diiringi bunyi tifa menambah semarak dan sukacita kami. Panas terik tidak menjadi halangan bagi Bapa Uskup untuk berjumpa. Bapa Uskup justru memberikan kehangatan cinta dan berkat.

Bapa Uskup menyusuri pantai dari Amdasa menuju Sangliat Dol. Bapa Uskup menelusuri Laranlemdriti. Laranlemdriti berarti pantai perempuan. Engkau masuk dalam rahim tanah leluhur ini. Engkau memberkati Rahim yang memberi kehidupan dan penghasilan bagi masyarakat ini.

Bapa Uskup kemudian diterima secara adat oleh Tuan Tanah di pusat peradaban Desa Sangliat Dol. Desa Sangliat Dol terkenal dengan tangga Batu (titar) dan  Perahu Batu (fampompar). Bapa Uskup didoakan secara adat, dikalungkan syal dan disambut dengan tarian khas untuk menyambut tamu agung, yaitu tarian angkosi.

Uskup Seno Ngutra sedang menaiki anak tangga, didampingi umat/warga setempat. Sumber foto: Facebook Inno Ngutra

Bapa Uskup kemudian diarak dan menapaki tangga batu yang berjumlah 108 anak tangga. Setiap anak tangga mempunyai makna filosofis tentang perjalanan hidup manusia.

Misalnya, tangga pertama tersusun rapi melambangkan kepolosan dan kesucian dari anak yang baru lahir. Tangga kedua yang tidak beraturan menunjuk pada tahap anak-anak yang masih nakal dan tidak stabil. Tangga semakin tinggi menujuk pada masa dewasa dan orang tua.

Menurut tradisi seorang tamu agung yang naik tangga ini tidak boleh berhenti sampai di puncak. Bapa Uskup pun naik tangga ini tanpa berhenti dan sampai pada puncak. Mau menunjukkan sesulit apapun tantangan dalam Keuskupan ini, Bapa Uskup akan berjalan bersama umat tanpa putus asa. Bapa Uskup telah memberi harapan itu bagi kami.

Bapa Uskup kemudian diterima di Natarsori (tempat pertemuan dan musyawarah, pusat peradaban) dan didoakan oleh para tetua adat di desa ini. Hati ini sungguh tergetar dan merasakan suasana "mistik", karena berada di tempat sakral. Saat tetua adat mengangkat "Sopi" dan berdoa kepada Tuhan Mahakuasa (Ratumangkuase) dan para leluhur di tanah ini ikut mendoakan Bapa Uskup.

Saat berada Bapa Uskup di atas perahu batu (fampompar), membawa setiap orang untuk mengingat kisah Yesus saat berada di atas perahu Petrus (Luk.5:1-11). Kata-kata "Duc in Altum" (Bertolaklah ke tempat yang dalam) mempunyai pesan dan makna yang sangat dalam dan jelas.

Kami percaya Bapa Uskup berada bersama dengan kami dalam perahu Keuskupan Amboina ini. Segala badai dan gelombang serta tantangan iman dan hidup ini, kami tidak gentar dan takut sebab Kristus ada di dalam perahu Keuskupan ini.

Setelah dari Desa Sangliat Dol, Bapa Uskup mengunjungi dan memberkati Desa Sangliat Krawain, Arui Bab, Arui Das, Lorwembun, Alusi Batjasi, Alusi kelan, Alusi Bukjalim dan Alusi Krawain. Peristiwa ini sungguh hidup dan membawa kita pada kisah dalam Injil bagaimana Yesus dan para murid berjalan dari desa ke desa untuk membawa kabar sukacita bagi banyak orang. Begitu pula Bapa Uskup membawa kegembiraan bagi kami semua.

Mereka menyambut dengan doa adat, foruk (syair) dan tarian yang diiringi dengan pukulan tifa dan guitar menambah sukacita umat di pesisir timur. Bapa Uskup akhirnya memberi sakramen Krisma kepada 363 orang di Paroki Alusi. Perayaan ini akan menjadi menjadi ingatan yang hidup dari anak-anak dan dewasa dan menjadi kisah sejarah yang indah bagi kami semua.

Uskup Seno Ngutra memberikan berkat kepada umat Katolik di wilayah setempat. Sumber foto: Facebook Inno Ngutra

Sungguh ini menjadi peristiwa iman yang besar. Petualangan iman bersama Mgr. Inno sangat meneguhkan hati kami. Kami tetap menjaga warisan iman Katolik yg telah diberikan oleh para misionaris dan juga nenek moyang kami.

Bapa Uskup telah mengunjungi, memberkati dan tinggal bersama-sama dengan kami. Bapa Uskup telah mengukir sejarah di tanah leluhur kami dan terpatri  dalam hati kami. Terima kasih atas Satu Cinta, 1000 senyum yang Bapa Uskup berikan. Andaun Lese (Satu Pikiran), Dalam Lese (Satu Hati) di Bumi Duan Lolat dan Keuskupan ini. Tabe Mangfaret Silai (Hormat kepada Yang Kuasa).

Ratu Norkit Monuk Dedesar "Tuhan menyertai kita sekalian".

Tulisan ini diambil dari unggahan Facebook Uskup Seno Ngutra (Inno Ngutra) pada Jumat (20/5/22).

Baca Juga

Berita Populer

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar