Marrin News

Intip Lomba Kesenian Tradisional Kei Jelang Hari Peringatan Nen Dit Sakmas ke-III

Pembukaan lomba menyanyi trdisional dan meniup suling oleh Bupati Maluku Tenggara M Thaher Hanubun (kiri atas) menjelang peringatan hari Nen Dit Sakmas, yang dipusatkan di lokasi makam Nen Dit Sakmas, Ohoi Semawi, Kabupaten Maluku Tenggara. Sumber foto: Marrin News. 

Penulis/Editor: Ghege Ngamel ||

Malra, MARRINNEWS.com – Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara melalui Dinas Kebudayaan, pada Kamis (2/9/2021) menggelar perlombaan kesenian tradisional Kei, di lokasi makam Nen Dit Sakmas, Ohoi atau Desa Semawi.

Lomba tersebut dilaksanakan dalam rangka peringatan hari Nen Dit Sakmas ke III, pada tanggal 7 September nanti. Lomba berlangsung selama sehari.

Terdapat dua jenis kesenian tradisional Kei yang diperlombakan, yakni lomba menyanyi tradisional dan meniup suling. 

Untuk lomba menyanyi tradisional, ada tiga kategori, yakni ngel ngel, wa'war, dan snehat.

Adapun lomba menyanyi tradisional ini, diikuti 30 orang. Sedangkan lomba meniup suling, 5 orang. Para peserta adalah perwakilan siswa-siswi SMA/SMK/MA di daratan Kei Kecil.

“Peserta dibatasi hanya untuk siswa-siswi SMA/SMK/MA karena mempertimbangkan kondisi daerah yang masih dilanda Covid-19 dan penerapan PPKM Mikro,” jelas Ketua Panpel lomba, Kris Ell.

Sementara itu, dewan juri untuk lomba nyanyian tradisional diambil dari Ibu-ibu Ohoi Danar Lumefar. Sedangkan juri pada lomba meniup suling, yakni Aglibertus Lobya dan Cosmas Rahawarin.

Peserta dari SMA Kristen Anugerah menjadi peserta pertama lomba menyanyi tradisional. Peserta yang beranggotakan 3 puteri dan 1 putera ini tampil dengan membawakan wa'war bertajuk Nen Dit Sakmas.

Walau masih berusia remaja, empat sosok siswa-siswa ini terlihat cukup memukau saat melantunkan nyanyian khas masyarakat Kei ini.

Selain mereka, penampilan peserta kedua dari SMA Raudah Danar dengan nyanyian ngel ngel, terlihat sangat memukau.

Peserta beranggotakan tiga puteri ini tampil bak ibu-ibu tempoe doeloe Kei, yang terbiasa menyanyikan ngel-ngel.

Selanjutnya, peserta solo dari SMA Negeri 11 Maluku Tenggara beraksi memainkan suling bambu dengan balutan irama tipa nam.

Pria asal Ohoi Revav ini terlihat begitu piawai memainkan suling. Improfisasi irama yang dimainkannya mampu menghipnotis tamu-undangan yang hadir. Tepuk tangan pun terdengar riuh kala si peniup suling mencengkokan nada.

Aspek Penilaian

Salah satu dewan juri, Petronela Savsavubun menyebut ada empat aspek penilaian dalam lomba menyanyi tradisional, kategori ngel ngel.

“Lirik lagu sesuai dengan moment peringatan hari Nen Dit Sakmas. Keharmonisan irama tipa dan nyanyian, serta ekspresi dan artikulasi,” kata mantan Kepala Dinas Kebudayaan Malra itu.

Selanjutnya, terdapat 3 aspek Penilaian pada kategori wa'war. Diantaranya, lirik lagu, ekspresi dan artikulasi.

“Sedangkan untuk meniup suling, yang dinilai adalah kemampuan peserta menginprofisasi irama suling dengan cengkokan-cengkokan unik,”

Prosesi Serimonial

Lomba menyanyi tradisional dan meniup suling dibuka secara resmi oleh Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun, ditandai dengan pemukulan tipa.

Menariknya, tipa tersebut dibunyikan sebanyak masing-masing 9 dan 5 kali sesuai klasifikasi persekutuan masyarakat hukum adat yang ada di bumi Larwul Ngabal, Ur Siw dan Lor Lim.

Pantauan Marrinnews.com, Sebelum lomba tersebut dibuka, Bupati Thaher didampingi ibu daerah Eva Eliya bersama sejumlah pimpinan Forkopimda, beranjak sejenak mengunjungi luar area makam Nen Dit Sakmas.

Tak luput, orang nomor satu bumi Larwul Ngabal ini memberi sesajian dan memanjatkan doa kepada arwah Nen Dit Sakmas secara adat “toar taroman”.

Acara pembukaan lomba berlangsung dengan sederhana dan menerapkan protokol kesehatan.

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar