Marrin News

Sidang Klasis ke 44 GPM Kei Besar Jadi Moment Evaluasi Pelayanan Nan Dinamis

Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun dan Sekertaris Daerah A. Yani Rahawarin bersama Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku, Pendeta E. T. Maspaitela dan Tokoh Agama lainnya. Dok: Marrinnews.com

Penulis: Ghege Ngamel | Editor: Ghege
"Bapak Bupati (Thaher Hanubun) menunjukkan kepekaan yang tinggi dengan menjumpai jemaat-jemaat, mendengar secara langsung keluh hati mereka sambil menjawab dalam tindakan nyata. Itu menjadi tanda bahwa karakter kepemimpin seperti itu yang diharapkan, termasuk Gereja ini," ungkap Balwawin. 

Langgur, Marrinnews.com -  Ketua Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) Kei Besar, Pendeta E. Belwawin mengatakan, prospek pengembangan GPM dalam lima tahun ke depan memerlukan perhatian dan dukungan pemerintah daerah. 

Belwawin menyatakan bahwa GPM dan Pemerintah daerah adalah mitra dalam hal membangun  masyarakat di Bumi Larvul Ngabal. 

Ia mengatakan, pada tahun 2012 GPM mempolakan Renstra Jemaat dan berlangsung hingga periode sekarang.

"Itu berarti bahwa konsentrasi Gereja pada  usaha-usaha  ekonomi,  peningkatan mutu pendidikan dan kesejahteraan akan semakin terfokus karena jemaat-jemaat  akan menyelenggarakan program kerja riil, sesuai kondisi kehidupan jemaat yang juga ada di ohoi-ohoi," jelas Pendeta Balwawin dalam sambutannya pada acara pembukaan Persidangan Klasis Ke 44 GPM Kei Besar di lokasi Gereja Ad Weraur, Minggu (18/4/2021). 

Balwawin menggangap, masalah  rill dalam Jemaat GPM Kei Besar  adalah  masalah pemerintah juga. 

Ia meyakini, jika semua jemaat terpola dalam sistem kerja renstra maka dalam Musrembangdes ataupun Musrenbang Kecamatan, pemerintah akan mendapati data-data yang riil dari Gereja.  

Dengan  demikian, lanjut dia, intervensi  program pemerintah akan tepat sasaran dengan problemantika pokok di masyarakat. 

"Itu pun berarti GPM semakin memberi kontribusl  positif kepada pemerintah daerah," kata Ketua Klasis GPM Kei Besar. 

Ia menjelaskan, renstra jemaat harus terJadi sebagaimana dimaksud. Oleh karena karena tiap jemaat memiliki potensi-potensi umat masyarakat, sumber daya alam dan pergumulan yang berbeda satu sama lain. 

Ia mengingatkan bahwa renstra tersebut harus tetap berjalan bersama dan dibingkai dalam sebuah renstra yang sekaligus merupakan dokumen teologi dan iman pertumbuhan jemaat,  Klasis  dan  GPM  secara menyeluruh. 

Balwawin mengungkapkan bahwa pihaknya merasa gelisah dengan masalah lingkungan yang kian marak terjadi akhir-akhir ini.

Selain itu, menurut dia bahwa bantuan-bantuan pemerintah  kepada  kelompok-kelompok  kecil yang  menamakan diri sebagai kelompok nelayan, ternyata belum difungsikan dengan baik.

"Speedboath sebagai bantuan Pemerintah hanya digunakan sebagai  alat  transpotasl  dan  belum didorong  bagi  peningkatan  potensi dan  finansial kelompok dan keluarga," beber Balwawin. 

Kendati demikian, Balwawin menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, para camat dan kepada-kepala Ohoi yang sudah membantu Gereja dalam proses pelayanan selama ini. 

Bagi dia, proses pelayanan tersebut berlangsung dengan harapan adanya korelasi dalam menata tugas bersama di lokus Maluku Tenggara, sehingga tetap terjaga dalam bingkai ain ni ain. 

"Bapak Bupati (Thaher Hanubun) menunjukkan kepekaan yang tinggi  dengan menjumpai jemaat-jemaat, mendengar secara langsung keluh hati mereka sambil menjawab dalam tindakan nyata. Itu menjadi tanda bahwa karakter kepemimpin seperti itu yang diharapkan, termasuk Gereja ini," ungkap Balwawin. 

Sementara itu, sebagai sidang tahunan Gerejawi, Pendeta Irapegi Soplanit menganggap, pelaksanaan Sidang Klasis GPM Kei Besar menjadi momentum evaluasi pelayanan dalam lingkup Kei Besar secara internal. 

"Sekaligus membahas permasalahan gereja, masyarakat, bangsa dan negara serta merumuskan peran kerja gereja ditengah dinamika kehidupan bermasyarakat dan bernegara, " kata Ketua Panitia Persidangan itu. 

Soplanit menambahkan, persidangan klasis tersebutjuga menjadi momentum untuk menggerakan dan mendinamisir pembangunan negeri dan kawasan pada setiap wilayah tempat sidang gerejawi ini dilaksanakan.

"Setidaknya melalui persidangan Klasis GPM Kei Besar yang digelar di wilayah-wilayah diharapkan ada implikasinya bagi perkembangan masyarakat," ujar dia. 

Pendeta Irapegi mengemukakan bahwa berbagai isu kemasyarakatan dan kebangsaan senantiasa menjadi agenda tetap untuk distudikan dalam rangka merumuskan kebijakan strategis gereja untuk bersama-sama Pemerintah melayani masyarakat. 

Ia mengklaim, agenda-agenda itu lantas memposisikan Sidang Tahunan Klasis strategis bagi upaya membangun gereja dan masyarakat di Kei Besar . 

"Selain posisi strategis itu, pilihan tempat pelaksanaan Sidang Klasis yang digelar secara bergilir di wilayah-wilayah yang tersebar di Kei Besar dimaksudkan untuk mendorong dan memintakan perhatian pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan secara merata di seluruh wilayah Pulau Kei Besar agar dapat bertumbuh bersama-sama," jelas Soplanit.

Acara Persidangan ke 44 Klasis GPM Kei Besar dirangkai juga dengan pelaksanaan peletakan batu pertama Gereja Baru Jemaat Kehidupan Ad Weraur. 

Prosesi peletakan dilakukan langsung oleh Bupati Maluku Tenggara, Muhamad Thaher Hanubun dan Ketua Majelis Pekerja Harian Sinode Gereja Protestan Maluku, Pendeta E. T. Maspaitela. 

Turut hadir, Sekda Ahmad Yani Rahawarin dan sejumlah Pimpinan dan Staf OPD lingkup Pemda Malra, Pimpinan dan Anggota DPRD, Tokoh Agama, Masyarakat, Pemuda dan Tokoh Adat. 

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar