Marrin News

Wali Kota : M-LIN Jangan Hanya Diarahkan ke Pulau Ambon!

Wali Kota Tual Adam Rahayaan S.Ag., M.Si

Pewarta: Nick Renleuw | Marrin News

“Anggarannya cukup besar jadi karena saya membaca MLIN ini artinya Maluku Lumbung Ikan Nasional, menurut hemat saya, ini adalah akumulasi dari seluruh kabupaten/kota di Maluku, merupakan sumber atau potensi ikan terbesar di Maluku. Jadi bukan dari satu daerah tertentu saja. Kalo bisa itu jangan diarahkan saja ke Pulau Ambon,” Wali Kota Tual Adam Rahayaan. S.Ag., M.Si.


Tual, Marrinnews.com.- Wali Kota Tual Adam Rahayaan berharap penetapan Provinsi Maluku sebagai lumbung ikan nasional (M-LIN) dapat memberikan dampak multiplayer effect, baik secara langsung maupun tidak langsung, bagi masyarakat di Maluku khususnya di Kota Tual.

“Kalau yang saya pahami dan sudah saya sentil di sambutan (ketika membuka konsultasi publik) kalau M (dalam akronim M-LIN) itu kan Maluku, nanti bicara LIN di Maluku itu untuk 11 kabupaten/kota di Maluku,” ungkap Wali Kota ketika diwawancarai Marrin News diruang Kerjanya, Rabu (03/03/2021).

Hal ini juga sudah diutarakannya ketika membuka kegiatan Konsultasi Publik dengan tema Peran Strategis Kota Tual dalam Mendukung Maluku Sebagai Lumbung Ikan Nasional (M-LIN) yang berlangsung di Aula Balai Kota Tual, Senin (01/03/2021) lalu.

Menurutnya, secara teori ekonomi, Provinsi Maluku dengan kabupaten/kota yang ada memiliki berbagai potensi, khususnya sektor kelautan dan perikanan. Namun selama ini, potensi tersebut belum menjadi pilar utama dalam mendorong kesejahteraan rakyat di Maluku dan Kota Tual khususnya. M-LIN, menurutnya, menjadi kesempatan dan harapan untuk mengaktualisasikan potensi dimaksud.

Diluncurkan Pusat untuk Atasi Kemiskinan di Maluku

Rahayaan menegaskan, bagaimanapun juga penetapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional harus disyukuri. Apalagi, program ini sudah diwacanakan sejak tahun 2010 di masa kepemimpinan Presiden SBY baru terealisasi sekitar 10 tahun kemudian di masa kepemimpinan Presiden Jokowi.

“Salah satu yang membuat kita sadar sungguh bahwa LIN ini kan pencanangannya itu oleh pemerintah pusat sejak 2010. Itu artinya pusat yang memulai karena Maluku itu termiskin ke-4 di Indonesia. Nah kemiskinan itukan tersebar di kabupaten/kota yang ada di provinsi,” jelas Wali Kota.

Oleh karena itu, Rahayaan berharap agar dalam kebijakan yang diambil, M-LIN bisa membawa dampak positif untuk semua kabupaten/kota di Maluku secara khusus untuk mengatasi pengangguran dan kemiskinan demi mencapai kesejahteraan.

Secara teknis, Rahayaan meminta agar pengembangan M-LIN dilakukan per sektor dan dibagi ke seluruh kabupaten/kota di Maluku. Menurutnya, hal ini juga sudah disuarakan Pemkot Tual dalam acara virtual diskusi nasional beberapa waktu lalu agar pengembangan juga diarahkan ke bagian timur dan tenggara Maluku di mana terdapat Kota Tual, Kabupaten Maluku Tenggara, Kepulauan Aru, Kepulauan Tanimbar, dan Maluku Barat Daya.

Ia mencontohkan, meskipun kebijakan saat ini sudah menetapkan pembangunan industri M-LIN nantinya di kawasan Tulehu, tetapi industri tersebut membutuhkan kontinuitas pasokan bahan baku yang berasal dari seluruh perairan Maluku.

“Taruhlah sudah ada di Tulehu sana, itu untuk menjawab apa, dan yang ada di wilayah sini (timur/tenggara) itu untuk menjawab apa. Tual itu ada punya PPN Dumar di sana ada dua (instansi vartikal) Dirjen Tangkap dan Pengawasan, ada pelabuhan nasional juga di sini.

“Jangan (Hanya) Diarahkan Saja ke Pulau Ambon!”

Sebelumnya, ketika membuka forum konsultasi publik pada Senin (01/03/2021) lalu, Secara blak-blakan, Wali Kota Adam Rahayaan meminta agar berbagai kebijakan terkait Program M-LIN tidak hanya dipusatkan di Ambon dan sekitarnya.

Hal ini disampaikannya langsung di hadapan dua narasumber dalam kegiatan konsultasi dimaksud yakni Direktur Pascasarjana Universitas Pattimura, Prof. Dr. Ir. Alex S. W. Retraubun dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, Dr. Ir. Abdul Haris, M.Si.

“Anggarannya cukup besar jadi karena saya membaca MLIN ini artinya Maluku Lumbung Ikan Nasional, menurut hemat saya, ini adalah akumulasi dari seluruh kabupaten/kota di Maluku, merupakan sumber atau potensi ikan terbesar di Maluku. Jadi bukan dari satu daerah tertentu saja. Kalo bisa itu jangan diarahkan saja ke Pulau Ambon,” bebernya.

Ia lalu memaparkan informasi yang didapatkannya dari media massa terkait kebijakan pengembangan LIN di Maluku sekaligus meminta konfirmasi pada kedua narasumber. Menurut informasi tersebut, pengembangan untuk sektor perikanan tangkap diarahkan ke Seram Bagian Barat dan Pulau Buru. Sedangkan pengembangan sektor perikanan budidaya diarahkan ke Tanimbar.

“Menurut saya, dua daerah di Maluku sebenarnya sudah memenuhi (kualifikasi pengembangan M-LIN) itu, Ambon dan Kota Tual karena kita punya pelabuhan nasional (PPN) ada di sini, ada MTB (KKT) juga, volumenya sangat besar,” paparnya blak-blakan.

“Jadi mungkin kita ini lebih diarahkan ke industri ya, atau pelatihan-pelatihan, kalau fokus atau konsentrasinya di arahkan ke sana, maka bagian-bagian lain diarahkan ke kabupaten/kota yang lain,” urai Wali Kota lebih lanjut.

“Saya berharap sekali ini pak. Nanti mungkin di forum-forum rapat para kepala daerah dengan Bapak Gubernur, Insha Allah saya ingat untuk saya juga bisa sampaikan. Supaya kita ini bisa dapat bias-bias sedikit pak dari kebijakan yang satu ini,” harapnya.

Berharap Dilirik Pemerintah Pusat dan Pemprov

Wali Kota Adam Rahayaan berharap, segala masukan yang telah diberikan termasuk lewat hasil konsultasi publik yang digelar Senin (01/03/2021) lalu, dapat didiskusikan lebih lanjut di tingkat provinsi untuk menentukan kebijakan terkait M-LIN nanti.

“Kami berharap diskusi (dalam konsultasi publik) itu akan memberikan kontribusi yang positif, khususnya kebijakan nasional program M-LIN yang kiranya dapat menjadi rekomendasi dan telaah dalam membangun Maluku khususnya sektor kelautan dan perikanan secara komprehensif,” harapnya.

Dalam konsultasi publik terkait kebijakan M-LIN dimaksud, Wali Kota juga secara terang-terangan mempresentasikan potensi Kota Tual lainnya. Menurutnya, ke depan Kota Tual bukan hanya merupakan daerah yang menghasilkan ikan, namun dapat menjadi kota jasa.

“Ini dibuktikan oleh kajian-kajian yang telah dilakukan baik oleh lembaga perguruan tinggi dan lembaga resmi lainnya bahwa Kota Tual merupakan salah satu kabupaten/kota di Maluku yang memiliki kesiapan untuk menjadi kota jasa dengan tata kelola yang baik,” paparnya.

“Artinya bahwa, dukungan sumber daya dan infrastruktur pendukung menjadi prioritas yang perlu didorong dengan investasi sehingga kami berharap, Pemerintah Provinsi Maluku kiranya juga tetap melihat Tual sebagai salah satu kabupaten/kota di Maluku yang siap untuk melaksanakan program M-LIN serta program-program pemerintah lainnya,” pungkasnya.

Sesudah mengutarakan berbagai uneg-uneg dan harapannya, Wali Kota Adam Rahayaan menyatakan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Tual mendukung sepenuhnya penetapan Maluku sebagai lumbung ikan nasional. Dukungan pemkot, lanjutnya, diberikan sesuai dengan kapasitas dan kewenangan yang dimiliki.

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar