Marrin News

Tual Catat Inflasi Tertinggi Secara Nasional, Wali Kota Minta Stakeholder Fokus Perhatikan Hal Ini

Wali Kota Tual, Adam Rahayaan menyampaikan arahannya sesaat sebelum menyerahkan paket bantuan sarana penangkapan ikan dan pemasaran hasil perikanan tahun anggaran 2020 kepada sejumlah nelayan, Sabtu (12/12/2020) sore.

Tual, Marrinnews.com – Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data hasil survei Indeks Harga Konsumen (IHK) yang menyebutkan bahwa Kota Tual mencatat inflasi sebesar 1,15% pada November 2020. Rilis tersebut juga menyebutkan bahwa catatan nilai inflasi Kota Tual tersebut merupakan yang tertinggi secara nasional.

Kabar yang kurang menggembirakan ini ditanggapi secara serius oleh Wali Kota Tual, Adam Rahayaan. Selama dua hari berturut-turut di Aula Balai Kota Tual, ia mengungkapkan keresahannya terkait situasi ini.

Pertama, saat membuka secara resmi Rapat Koordinasi (Rakor) Bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Maluku dengan TPID Kota Tual, Jumat (11/12/2020). Selanjutnya, saat menyerahkan paket bantuan sarana penangkapan ikan dan pemasaran hasil perikanan tahun anggaran 2020 kepada sejumlah nelayan, Sabtu (12/12/2020) sore.

“Di 2017 dulu Kota Tual pernah mencapai (inflasi) 9 koma sekian persen, tapi waktu itu, hasil kabupaten/kota lain juga masih di atas rata-rata. Nah sekarang ini dia turun, bayangkan cuma  1,15% tapi malah jadi yang tertinggi secara nasional,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, setelah melihat data hasil survei BPS, ternyata banyak kota telah mengalami deflasi. Ia mencontohkan Kota Ambon yang mencatat deflasi sekitar 0,30%.

“Kita ini (inflasi) 1,15% berarti harus ada rapat-rapat koordinasi lagi internal TPID Kota untuk menyusun langkah-langkah yang strategis,” bebernya

Saat penyerahan bantuan sarana perikanan, Rahayaan menyoroti secara khusus terkait rendahnya kontribusi sektor perikanan dalam pertumbuhan ekonomi Kota Tual. Ia meminta para nelayan untuk lebih baik lagi dalam memanfaatkan bantuan yang diberikan.

Lebih lanjut, Rahayaan juga meminta para nelayan di Kota Tual untuk memperbaiki mentalitas yang menurutnya masih bersifat musiman, kurang sabar dan tidak punya perencanaan jangka panjang sehingga tidak mengalami pertumbuhan ekonomi.

“Saya lihat nelayan di sini ni dong mau untuk harus tiap hari mencari dapat 100, 200 ekor, kalau tidak dapat, cepat putus asa. Sementara pas giliran bisa hasilkan banyak, istirahat berhari-hari ikut pesta dan tidak mencari,” sesalnya.

Menurutnya, mentalitas tersebut perlu diperbaiki supaya sektor perikanan terutama agar aktivitas ekonomi para nelayan bisa memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Kota Tual.

Ia menyayangkan minimnya kontribusi sektor perikanan tersebut mengingat sejak Kota Tual didirikan hingga saat ini, sudah ada ratusan paket bantuan alat tangkap perikanan yang disalurkan Pemkot Tual kepada nelayan.

“Belum lagi (bantuan alat tangkap perikanan) yang dianggarkan dari ADD (Anggaran Dana Desa), bisa ratusan pula” sebutnya.

Ia mencontohkan, Desa Tam pada tahun 2019 pernah mengganggarkan bantuan alat perikanan hingga 100 lebih. Ia bahkan sudah membuktikan sendiri hal itu ketika berkunjung ke sana.

Meski demikian, ia kembali mengingatkan bahwa semua bantuan itu tidak akan berubah tanpa perubahan mental dari para pelaku perikanan sendiri, teristimewa para nelayan. Ia berharap, bantuan yang diberikan dan perbaikan mental bisa saling berkolaborasi meningkatkan pertumbuhan ekonomi nelayan hingga turut berkontribusi bagi pertumbuhan ekonomi Kota Tual.

Pertanyakan Sampel

Selain itu, Wali Kota Adam Rahayaan juga mempertanyakan beberapa jenis komoditi yang dijadikan sampel survei oleh Badan Pusat Statistik. Secara spesifik ia menyebut sejumlah jenis ikan yang dijadikan sampel yakni ikan tongkol, ikan layang dan ikan tuna.

Ia menyebutkan, jika komoditas tersebut masih saja dijadikan sampel, ia yakin tidak hanya Kota Tual, tetapi sebagian besar kabupaten/kota lain pun akan mengalami masalah. Alasannya, ikan tersebut bukanlah jenis ikan yang bisa ditemukan dalam jumlah banyak di semua wilayah.

“Ikan tuna misalnya. Di sini mungkin ada satu atau dua, tetapi tidak sebanyak di Tulehu atau Galala di Ambon sana misalnya. Belum lagi ikan itu tidak terlalu populer di pasar sini jadi orang juga mungkin tangkap tapi untuk konsumsi sendiri saja,” jelasnya.

“Kalau kita paksakan harus banyak di pasar, selain harus bom ikan itu. Jadi dulu kan kita sudah surati, ikan momar misalnya. Lalu ikan momar sudah dihilangkan dari sampel, sekarang dia beralih lagi ke ikan yang juga sulit juga,” sesalnya.

Meski demikian, Rahayaan mengaku tetap akan mengambil sejumlah langkah sebagai jalan keluar untuk menekan laju inflasi di Kota Tual.

“Jadi kita sudah rapat itu sudah dengar masukan-masukannya tinggal nanti tim kota menyusun lagi langkah-langkah atau solusinya untuk menekan,” pungkasnya. (Nick Renleuw)

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar