Marrin News

Strategi Atasi Papalele Dadakan, DKPP Malra Cetus Gerakan Lima Hari Berkebun

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Maluku Tenggara, Felix Bonu Tethool. FOTO/Dok. Ghege

Langgur, Marinnews.com - Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Maluku Tenggara senantiasa  menghadirkan berbagai inovasi dan program guna mewujudkan petani profesional di daerah ini. 

Sebelumnya, DKPP Malra melakukan terobosan di sektor pertanian dengan menerapkan sistem smart irigation pada “ve’e kes yang” yang terletak di depan Kantor Bupati. Dengan pemanfaatan teknologi ini, maka petani dapat memantau dan mengontrol proses pengairan tanaman dari jarak jauh dengan aplikasi Android yang dimilikinya.

Kali ini, DKKP Malra kembali menggalakan program 5 hari berkebun. Melalui program ini, diharapkan selama lima hari itu, ada aktivitas petani di lahan yang digarapnya. 

Kepala DKPP Malra, Felix B. Tethol mengatakan, dewasa ini marak bermunculan Papalele musiman atau dadakan. Fenomena itu muncul akibat dari perilaku petani itu sendiri, dimana selain sebagai petani tetapi juga langsung bertindak sebagai penjual. 

"Kenapa, itu karena petani berfungsi sekaligus sebagai penjual. Dia tinggalkan kebunnya dan pergi berjualan di pasar,  akhirnya munculah Papalele dadakan itu," jelas Tethol saat ditemui Marinnews.com, Jumat (4/12/2012) di lokasi Ve'e Kes Yang, lahan Kantor Bupati Malra. 

Felix mengklaim, fenomena profesi ganda tersebut dapat berdampak pada stabilitas pasar maupun hasil pertanian, bahkan juga dapat berimbas pada pendapatan ekonomi petani.

"Apa yang terjadi apabila hal ini terus dilakukan, tanda tanya di pasar? Pada saat tertentu hasil pasti banyak di pasar, namun begitu juga disaat tertentu hasil pasti tidak ada. Selain itu, dampak negatifnya adalah pendapatan petani tidak contunie (tidak rutin atau sesekali saja). Hal ini lantaran kebunnya ditinggalkan," sebut dia. 

Demi meningkatkan kesejahteraan petani itu sendiri, maka menurut Felix, perlu ada strategi yang harus dilakukan agar lahan petani dapat terus terisi dan terpenuhi. Strategi dimaksud, ungkapnya, yakni melalui gerakan lima hari lahan tak boleh kosong 'berkebun'

"Untuk meminimalisasi permasalahan ini, kami coba dengan membuat gerakan lima hari lahan tidak boleh kosong. Jadi selama 5 hari, petani akan bekerja di kebunnya. Kemudian, setelah panen, kalau petani kelelahan, maka selama lima hari petani dapat memanfaatkannya untuk beristirahat," ujarnya. 

Menurut Tethol, apabila kebiasaan ini dapat dilakukan, papalele dadakan tidak ada. Lebih dari itu, akan tercipta petani profesional dan pada akhirnya pendapatan didapatkan secara rutin. 

Felix menandaskan, program gerakan 5 hari berkebun tersebut sudah dijalankan. "Petani kan banyak, jadi kami berikan edukasi dari desa ke desa terkait hal itu," katanya. (Ghege) 

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar