Marrin News

Kawal Penyaluran Mitan ke Masyarakat, Disperindag Pastikan Menindak Pangkalan dan Pengecer Nakal

Pelaksanaan Operasi Pasar Minyak Tanah Murah di Kota Tual


Tual, Marrinnews.com – Pemerintah Kota (Pemkot) Tual melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat masih terus berupaya keras mengatasi persoalan kelangkaan minyak tanah yang sementara terjadi di wilayahnya.

“Tadi ada informasi yang kami terima dari staf kami, ada pangkalan yang mencoba menyimpan, setelah didrop dari agen mereka menyimpan, mereka tidak melakukan pelayanan penjualan,” ungkap Kepala Disperindag Tual, Darnawati Amir kepada Marrinnews.com di sela-sela pelaksanaan operasi pasar minyak tanah murah di Jalan Taar Baru, Sabtu (5/12/2020) sore.

Menurut informasi tersebut lanjutnya, masyarakat menyampaikan bahwa pangkalan ini tidak menjual karena stok minyak tanah habis. Setelah ditelusuri pihaknya, ternyata minyaknya ada. Pangkalan tersebut sambungnya, sengaja tidak mau menjual minyak tanah dengan sejumlah alasan yang mengada-ada seperti cuaca panas dan lain sebagainya.

“Ini yang perlu kami wanti-wanti. Pangkalan-pangkalan ini yang mesti kami harus betul-betul dampingi. Karena jangan sampai praktik-praktik ini yang kemudian menjadi kebiasaan di pangkalan-pangkalan. Mereka punya minyak tapi mereka katakan tidak ada minyak,” jelasnya.

Persoalan kelangkaan minyak tanah ini secara tidak langsung menimbulkan persoalan lain yakni kenaikan harga minyak tanah di pasar. Hal itu juga secara serius menjadi perhatian Pemkot Tual dalam hal ini lewat Disperindag.

Darnawati menjelaskan, standar harga eceran tertinggi minyak tanah seharusnya adalah Rp. 3.200 (per liter), bukan Rp. 4.000. Meski demikian, lanjutnya, rata-rata pihak pangkalan menjual minyak tanah kepada masyarakat dengan harga Rp. 4.000. Bahkan, tambahnya, ada pula pengecer yang menjual dengan harga di atas Rp. 4000.

“Praktik-praktik ini yang harus kita pulihkan, jangan sampai terjadi lagi. Pangkalan itu tidak mengeluarkan uang untuk membawa minyak sampai ke pangkalan karena tangki agen yang membawa minyak sampai ke pangkalan,” tegasnya.

Ia mengakui, masyarakat Kota Tual bahkan sudah terbiasa dengan harga minyak tanah Rp. 4.000 per liter. Meski demikian, ia menjelaskan bahwa praktek ini tidak benar sehingga pihaknya terus berusaha mengembalikan harga ke Rp. 3.200 per liter.

“Kami Perindag (Tual) betul-betul mengawal minyak (tanah) ini sesuai dengan peruntukannya, kemudian harganya. Jadi ada beberapa pangkalan yang sudah kita tegur dan bina,” tegasnya.

Dengan tegas ia menjelaskan, langkah yang sudah dan masih akan diambil pihak Disperindag Tual adalah dengan melakukan teguran dan pembinaan kepada baik pihak pangkalan maupun pengecer yang masih bertindak nakal dalam melayani penjualan minyak tanah.

“Kalau satu atau dua kali tidak bisa (tidak mengindahkan), maka kita sudah minta kesepakatan kepada pihak agen, kalau ada pangkalan yang nakal seperti ini maka harus dilakukan drying atau pengeringan minyak tanah di pangkalan tersebut. Untuk pengecer-pengecer yang menaikan harga kita langsung melakukan teguran baik lisan maupun tulisan,” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, Disperindag Tual telah mengungkapkan sekurang-kurangnya terdapat 4 faktor penyebab kelangkaan minyak tanah di Tual. Faktor-faktor penyebab itu adalah pengurangan jatah dari Pertamina, perubahan pola mata pencaharian warga akibat Covid-19, penggunaan mitan untuk kepentingan transportasi laut, serta adanya pangkalan dan pengecer nakal yang menimbun dan menaikan harga.

Pihak Disperindag Tual sudah mengambil sejumlah langkah untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah di daerah ini salah satunya adalah lewat digelarnya operasi pasar minyak tanah murah dengan metode extra dropping (penambahan penyaluran ke pangkalan). Sejauh ini, operasi tersebut sudah dilaksanakan sebanyak 4 kali di bulan November 2020. Rencananya, operasi serupa akan dilaksanakan sebanyak 5 kali di bulan Desember 2020. (Nick Renleuw)


Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar