Marrin News

Kadis Perindag : Pengurangan Jatah, Covid-19 serta Penimbunan Penyebab Kelangkaan Mitan di Tual

Kepala Disperindag Kota Tual, Darnawati Amir


Tual, Marrinnews.com – Kelangkaan bahan bakar minyak tanah yang terjadi di Kepulauan Kei beberapa waktu terakhir cukup meresahkan dan menjadi perbincangan di kalangan warga masyarakat. Isu ini menjadi salah satu perhatian serius Pemerintah Kota (Pemkot) Tual, dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat.

Kepala Disperindag Kota Tual, Darnawati Amir mengaku, pihaknya telah berupaya keras untuk mencari jalan keluar untuk mengatasi kelangkaan minyak tanah yang terjadi di daerah ini. Langkah yang diambil untuk mengatasi krisis tersebut, terangnya, salah satunya adalah dengan memetakan penyebab kelangkaan minyak tanah untuk kemudian dicari solusi yang tepat sasaran.

“Memang persoalan kelangkaan (minyak tanah) ini disebabkan karena beberapa faktor, bukan hanya satu,” jelas Darnawati kepada Marrinnews.com di sela-sela pelaksanaan operasi pasar minyak tanah murah di Jalan Taar Baru, Sabtu (5/12/2020) sore.

Penyebab utama, menurut Darnawati, adalah adanya pengurangan jatah minyak tanah yang diberikan pihak Pertamina kepada para agen. Ia menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, selama bulan September hingga November 2020, ada pengurangan jatah minyak tanah sekitar 10 hingga 20 kl (kilo liter) per agen.

“Kalau keluar dari Pertamina sudah berkurang pasti turun di masyarakat itu akan berkurang. Nah, untuk memenuhi, Pertamina memberikan kita extra dropping (penambahan penyaluran ke pangkalan) di Desember ini. Ini ada extra dropping sebanyak 100 kl nah ini kemudian kita distribusi antara lain hari ini,” jelasnya.

Selanjutnya, Darnawati menjelaskan, persoalan lain penyebab kelangkaan minyak tanah di Tual adalah terjadinya perubahan pola mata pencaharian masyarakat karena situasi pandemi Covid-19. Meski demikian, ia mengaku bahwa belum memiliki data pasti tentang berapa banyak terjadinya perubahan pola mata pencaharian.

“Tapi asumsi kita untuk sementara, karena Covid-19, banyak usaha-usaha yang tadinya mereka jualan pakaian, aksesoris, karena Covid-19, pembelian berkurang mereka berubah jadi jualan pangan jadi, baik yang online maupun yang offline. Nah, pastinya pangan-pangan jadi itu butuh bahan bakar untuk mengolah. Itu yang membuat terjadi lonjakan penggunaan minyak tanah,” ungkapnya.

Faktor lain penyebab kelangkaan minyak tanah, menurut Darnawati, adalah penggunaan minyak tanah untuk kepentingan transportasi laut. Meski demikian, ia mengklaim, praktek-praktek seperti ini sudah terjadi sejak dulu dan tidak berpengaruh signifikan.

“Kita pernah lah kurang lebih 4-5 tahun lalu pernah terjadi kelangkaan (minyak tanah), tapi baru kali ini lagi terjadi kelangkaan seperti ini. Yah mudah-mudahan dengan extra dropping ini kita sudah bisa menormalkan kembali harga minyak tanah,” bebernya.

Selain itu, lanjut Darnawati, kelangkaan minyak tanah juga disebabkan oleh kelakuan nakal oknum pangkalan yang sengaja menimbun minyak tanah untuk kemudian dijual dengan harga di atas rata-rata. Pola tindakan nakal tersebut, tambahnya, juga dilakukan sejumlah oknum pengecer minyak tanah. Terkait persoalan ini, ia mengaku, sudah melakukan teguran dan pembinaan.

“Kalau satu sampai dua kali tidak bisa (mengindahkan teguran) maka kita sudah minta kesepakatan kepada pihak agen, kalau ada pangkalan yang nakal seperti ini maka harus dilakukan drying atau pengeringan minyak tanah di pangkalan tersebut. Untuk pengecer-pengecer yang menaikan harga kita langsung melakukan teguran baik lisan maupun tulisan,” pungkasnya. (Nick Renleuw)

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar