Marrin News

Ve'e Kes Yang Jadi Sarana Perubahan Cara Bertani di Maluku Tenggara

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Maluku Tenggara Felix B. Tethol saat Berada di Ve'e Kes Yang, Area Lahan Kantor Bupati Baru. Foto/GG.

Langgur, Marrinnews.com - Petani dinilai punya perhitungan dan cara tersendiri dalam membaca musim dan cuaca kala hendak menanam. Budaya ini pun hingga kini masih tetap dipertahankan. Tak terkecuali, kalangan petani tradisional di Kabupaten Maluku Tenggara.

Meski demikian, modal pengetahuan musim tanam tersebut dinilai tidak lagi efektif dalam mendukung hasil panen. Hal itu lantaran hasil panen yang terkadang berimbas pada anjloknya ekonomi petani itu sendiri.

Disisi lain, masyarakat petani di Bumi berjuluk Larvul Ngabal dianggap belum sepenuhnya menjadikan industri pertanian sebagai sektor andalan pemenuhan ekonominya. 

“Masyarakat di daerah ini belum menjadikan sektor pertanian sebagai suatu pilihan hidup atau mata penchariannya, karena pendapatan ekonomi dari hasil berkebunnya itu terputus-putus,” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Maluku Tenggara, Felix B. Tethol di Langgur, Minggu (27/9/2020).

Tethol berpendapat, kondisi ekonomi sebagaimana dimaksud, diakibatkan oleh pemahaman dan cara bertani yang masih disesuaikan dengan musim.

“Kalau musim timur, mereka hanya menanam dalam jumlah kecil, karena katanya banyak hama. Sedangkan di musim lainnya, tanaman yang di tanam dalam jumlah banyak,” ujarnya.

Ia mencontohkan, sekarang banyak masyarakat bertanam dan hasilnya pun membludak. Akibatnya, harga di pasaran menurun. Kondisi ini pun menyebabkan masyarakat hilang gairah.

Menurut Felix, sektor pertanian adalah lapangan pekerjaan yang menjanjikan bagi masyarakat dalam memenuhi tuntutan ekonomi. Untuk itu, masyarakat harus serius menjalankan aktivitas sebagai petani dan tidak lagi bergantung pada kondisi musim.

“Kita harus mendidik mereka (petani) agar mindset bertani dapat berubah. Jika dulunya jumlah dan jenis tanaman disesuaikan dengan musim, sekarang menanam harus dilakukan sepanjang musim. Petani yang cerdas harus dididik untuk melawan musim,” ungkapnya.

“Misalnya di daerah Jawa, bulan Desember petani tidak menanam bawang. Akibatnya stock di pasaran kosong. Nah, kita mendidik petani kita agar menanam bawang di periode Desember itu. Dengan begitu, hanya daerah kita sendiri yang menyediakan bawang,” tambah dia.

Progres Ve'e Kes Yang 

Kadis KPP Felix B. Tethol ungkap, eksistensi Ve'e Kes Yang saat ini merupakan salah satu sarana pembelajaran bagi masyarakat petani untuk bagaimana melawan musim. 

“Keberadaan Ve'e Kes Yang bukan hanya tentang persoalan perut semata. Melainkan sebagaimana filsofi dibalik penamaannya, sehingga kebun ini dijadikan sebagai bekal perut, ketrampilan dan pengetahuan,” katanya.

Tethol mengaku, ada sebagian tanaman di Ve'e Kes Yang, ditemukan hama ulat. Adanya hama tersebut, katanya, lantaran masyarakat tidak menghiraukan petunjuk yang diberikan oleh para petugas penyuluh. 

“Mungkin saat ini kita belum trampil, sehingga masih ditemukan ulat pada tanaman. Jika petunjuk itu dilakukan sebagaimana mestinya, tanaman pasti aman dari hama. Lihat saja, tidak semua tanaman terserang hama, itu karena petunjuk diikuti dengan baik,” ujarnya.

Tethol berharap, dengan adanya pembimbingan yang dilakukan, masyarakat akan lebih tangguh. Dengan begitu, di tahun mendatang akan jauh lebih baik.

“Kita tetap bertani sambil belajar untuk memperbaiki kondisi sekarang agar kedepan lebih baik lagi,” katanya.
Lebih lanjut, Felix menjelaskan, keberadaan Ve'e Kes Yang di Maluku Tenggara berdasar dari adanya prediksi bahwa daerah ini akan mengalami krisis pangan akibat pandemi Covid-19. 

“Untuk menjaga ketersedian pangan tetap terpenuhi, sehingga dihadirkanlah Ve'e Kes Yang ini, dimana didalamnya turut melibatkan masyarakat,” tegasnya.

Sebagai tindak lanjut keberadaannya, menurut Tethol, Bupati Malra telah mengeluarkan kebijakan untuk memperluas lahan kebun masyarakat dengan merealokasikan lahan yang dikelola OPD ke masyarakat.

“Saat ini kita sudah berada pada fase recofery ekonomi. Untuk itu, lahan-lahan yang dikelola OPD akan diserahkan kembali untuk dikelola masyarakat,” pungkasnya. (Gerryngamel/MN)



Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar