Marrin News

Ajang Fashion Show Busana Adat Kei di Malra, Wujud Pelestarian Budaya

Salah Satu Pasangan Peserta Lomba Fashion Show Busana Adat Kei yang Digelar di Aula Kantor Bupati Maluku Tenggara, Senin (14/9/2020). Foto/Bag. Protokoler Malra.

Langgur, Marrinnews.com – Pemerintah daerah Kabupaten Maluku Tenggara melalui Dinas Kebudayaan menggelar lomba fashion show, bertempat di Aula Kantor Bupati-Jalan Abraham Koedoeboen Langgur, Senin (14/9/2020). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Bupati M. Thaher Hanubun, ditandai dengan pemukulan gong.

Pergelaran kreasi seni budaya dengan mengusung tema 'Evav Bermartabat' itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan hari Nen Dit Sakmas ke II tahun 2020 yang telah diperingati pada Senin (7/9/2020) lalu. 

Lomba tersebut digelar sebagai upaya melestarikan budaya Kei, sekaligus juga untuk menyatukan pemahaman dan pengetahuan mengenai model, corak dan warna busana adat Kei. Demikian dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan Malra Petronela Savsavubun dalam sambutannya saat itu.

Kontes fashion bertajuk budaya ini baru pertama kali dilaksanakan dan diikuti oleh sedikitnya 84 pasangan putra-putri dari berbagai jenjang satuan pendidikan di negeri berjuluk Larvul Ngabal. 

Ke 84 pasangan peserta itu, diantaranya 40 pasang perwakilan dari tingkat SD, SMP 25 pasangan, SMA 15 pasangan, dan Perguruan Tinggi 4 pasangan. Kegiatan ini dilangsungkan selama 1 hari.
Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun Membuka Secara Resmi Lomba Fashion Show Busana Adat Kei. Foto/Bag. Protokoler Malra.
Sementara itu, Bupati Malra Muhammad Taher Hanubun dalam sambutannya sebelum membuka kegiatan itu menyatakan, masyarakat di era saat ini lebih cenderung menerima hal-hal baru dan meninggalkan hal-hal yang lama. Ungkapan ini, kata Thaher, dikutipnya dari buku yang ditulis oleh Almarhum Raja Maur Ohoiwut, J. P. Rahail.

“Memang benar apa yang dikatakan sang mendiang. Katong (kita, red)) sekarang lebih suka pakai rok mini dan jenis pakian ini dan itu, tapi pakian adat kita sendiri, kita tak mengenalnya,” ujarnya.

Lantas, Hanubun tegaskan, apakah ini yang disebut sebagai bangsa dan daerah yang bermartabat? Dari cara berpakaian itulah menggambarkan kepribadian seseorang.

“Sebelum adanya Pancasila dan UUD, kita sudah memiliki hukum Larvul Ngabal yang melandasi tata perilaku kita. Dengan begitu, kandungan nilai-nilai budaya dan jati diri kita sebagai orang Kei, tidak boleh hilang termakan zaman,” jelas Thaher.

Orang nomor satu di negeri berjuluk Larvul Ngabal ini menginginkan agar pada saat peringatan hari Nen Dit Sakmas di tahun mendatang, seluruh elemen masyarakat dapat mengikuti kegiatan dengan menggunakan busana adat Kei sebagaimana mestinya.

Senada hal itu, Bupati Hanubun dalam kesempatan itu juga meminta Sekretaris Daerah untuk menjadwalkan kegiatan seminar budaya. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya melestarikan budaya Kei.

Bupati menilai, Kadis Kebudayaan adalah sosok perempuan Kei yang senantiasa berupaya menjaga dan melestarikan budaya. 

Untuk itu, Thaher memberi apresiasi tinggi kepada putri asal ohoi Langgur ini bersama jajaran instansi yang dipimpinnya.

“Terima kasih saya sampaikan, oleh karena ide dan gagasan dari ibu Kadis sehingga kegiatan ini dapat terselenggara. Saya berharap melalui iven ini, seluruh masyarakat Kei dapat menjaga dan melestarikan budaya yang ada agar identitas dan jati diri sebagai Orang Kei itu tampak,” pungkas Hanubun. (Gerry/MN)

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar