Marrin News

SMPN Unggulan Malra Nyatakan Siap Terapkan KBM Tatap Muka

 

Lokasi SMPN Unggulan Ohoijang-Maluku Tenggara Tampak dari Depan. Foto/GG.

Malra, Marinnews.com – Pemerintah Daerah Kabupaten Maluku Tenggara berencana akan membuka kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pada beberapa waktu kedepan. Sejumlah satuan pendidikan pun begitu optimis menyambut baik rencana tersebut. 

Salah satunya, SMP Negeri Unggulan Ohoijang-Maluku Tenggara. Pihak sekolah ini lantas mulai melakukan  berbagai persiapan, antara lain melakukan  penyemprotan cairan disinfektan di area lingkungan sekolah. 

Kepala Sekolah SMPN Unggulan Piet A. Rahanra memastikan, pihaknya sudah menyiapkan keperluan yang nantinya digunakan sebagai penunjang protokol kesehatan jika sudah dipastikan belajar tatap muka kembali aktif.

“Sebenarnya pihak sekolah  sudah siap sejak akhir ujian semester lalu, namun terkendala dengan putusan orang tua yang masih ragu akibat sekolah ini pernah dijadikan sebagai tempat karantina pelaku perjalanan. Meski begitu, saat ini kami sudah lakukan penyemprotan disinfektan,” ujar Rahanra saat ditemui diruang kerjanya, Kamis (13/8/2020).

Menurut Rahanra, pihak sekolah telah melakukan koordinasi intens dengan Dinas Pendidikan setempat dan pihak Komite sekolah serta Orang Tua/Wali siswa. Khusus untuk orang tua dan Komite, pihak sekolah menggelar pertemuan selama empat hari. Sementara, bukti fisik kesiapan sekolah dikirim langsung ke Dinas Pendidikan. 

“Kami sudah melakukan rapat bersama komite sekolah dan orang tua siswa, khusus untuk kelas VII selama 4 hari kemarin. Melalui petemuan itu, kami memberikan sosialisasi tentang keadaaan lingkungan sekolah, sekaligus meyakinkan para orang tua bahwa sekolah ini siap untuk kembali menjalankan proses KBM tatap muka sesuai prosedur yang berlaku, “ ungkap dia.

Ia mengaku, orang tua/wali siswa meyambut gembira dan bersedia mengizinkan anak mereka untuk kembali belajar di sekolah.

“Memang ada orang tua yang tidak sempat hadir. Namun, kami berharap hasil rapat tersebut dapat digaungkan kembali oleh orang tua yang hadir ke orang tua yang lain. Kami juga tentu akan melanjutkan hasil rapat ini ke setiap orang tua siswa melalui guru-guru yang ada,” katanya.

Piet menegaskan, pihaknya senantisa mendukung kebijakan Pemerintah daerah untuk membuka kembali KBM di sekolah.

“Kami sangat siap dan tinggal menunggu keputusan final Pemerintah daerah saja,” ujarnya. 

Kepala Sekolah SMPN Unggulan Ohoijang Piet A. Rahanra. Foto/GG.
Skenario Protokol Kesehatan dan KBM di Kelas

Rahanra menyatakan, protokol  kesehatan pada SMPN unggulan mutlak diterapkan jika aktivitas sekolah kembali normal. Selain sosial distancing dan penggunaan masker, juga diterapkan pembatasan siswa pada kelas dan jam waktu belajar.

“Di sekolah ini terdapat 11 kelas dan jumlah siswa kurang lebih sebanyak 297 orang. Dari jumlah itu, sistem belajar dibagi dalam dua shift dengan jumlah siswa pada setiap kelas, maksimal hanya sebanyak 18 siswa,” sebut dia.

Terkait shift belajar, Piet menjelaskan, durasi waktu proses KBM berlangsung selama 4 jam untuk nasing-masing shift setiap hari. Selama empat jam itu, disajikan dua mata pelajaran secara bergantian sesuai jadwal pelajaran. 

“Kami akan berupaya semaksimal mungkin agar siswa pada shift pertama dan kedua tidak saling bertemu. Untuk itu, setelah waktu belajar shift pertama berakhir, maka ada waktu jeda 1 jam untuk memulangkan siswa pada shift pertama. Setelah itu barulah siswa pada shift kedua diperkenankan hadir di sekolah,” ungkapnya.

Sementara itu, setiap guru akan ditugaskan untuk berjaga di sekitar area sekolah. Mulai dari pintu gerbang masuk hingga di depan ruang kelas.

“Setiap guru jaga, kalau gurunya pria akan bertugas selama 1 jam, sedangkan wanita hanya 30 menit,” terangnya.      

Rahanra  mengatakan, setiap siswa sebelum memasuki area lingkungan sekolah nantinya, akan melewati beberapa prosedur protokol.

Pertama, setiap siswa yang hendak masuk lingkunagn sekolah akan diperiksa suhu tubuhnya dengan menggunakan thermo gun oleh guru yang telah ditugaskan berjaga didepan pintu gerbang. 

Kedua siswa diarahkan oleh guru lainnya untuk  melakukan disenfeksi tangan menggunakan sabun dan air yang disiapkan serta hand sanitizer. Setelah itu, barulah siswa diizinkan masuk ruang kelas.

Tempat Cuci Tangan dan Proses Penyemprotan Disinfektan di SMPN Unggulan Ohoijang. Foto/GG.
Menurut Rahanra, pihak sekolah telah menyediakan masker kain gratis di sekolah. Sehingga nantinya jika ada siswa yang tidak memiliki masker, bisa mendapatkannya di sekolah.

“Masker ini tentunya menjadi tanggung jawab orang tua, tapi kami juga bertanggung jawab penuh untuk hal itu. Jadi, apabila ada siswa yang lupa menggunakan masker saat ke sekolah, kami telah menyediakannya sehingga pasti akan kami berikan kepada siswa tersebut,” bebernya.   

Piet menegaskan, kalaupun nanti ada orang tua siswa yang keberatan anaknya masuk sekolah, pihaknya akan mengutus guru datang mengajar langsung ke rumah siswa.

“Semua ini kita kembalikan ke orang tua melalui surat pernyataan kesediaan yang kita ajukan. Jika nanti ada orang tua yang tidak memberikan izin kepada anaknya, saya pastikan akan mengutus guru-guru untuk melakukan proses KBM di rumah siswa bersangkutan,” pungkasnya. (MN-16)


Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar