Marrin News

Perdana Siswa di Maluku Tenggara Masuk Sekolah, Ada Orang Tua Tak Beri Izin

Kondisi Perdana Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di salah satu Rombel pada SMPN Unggulan Ohoijang Maluku Tenggara, Senin (24/8/2020). Foto/GG.

Malra, Marrinnews.com – Satuan Pendidikan dari SD hingga SMA Sederajat di Kabupaten Maluku Tenggara akhirnya dapat kembali menggelar proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka di sekolah, Senin (24/8/2020). Proses KBM ini sendiri kembali diterapkan usai mendapat izin resmi dari Pemda Malra melalui Surat Bupati Nomor 4432/3873/SETDA tertanggal 19 Agustus 2020.

Sebelumnya, KBM tatap muka di Maluku Tenggara dihentikan Pemerintah daerah setempat selama kurang lebih empat bulan lamanya akibat pandemi COVID-19. Selama masa itu, siswa diperkenankan belajar dari rumah, baik secara daring (dalam jaringan) maupun luring (luar jaringan) sebagaimana ketentuan berlaku.

Sesuai pantauan media ini pada hari pertama hingga hari kedua, Selasa (25/8/2020) sekolah dibuka, protokol kesehatan diterapkan secara ketat. Meski demikian, tak bisa dipungkiri bahwa ada sekolah yang tak menjalankan protokol sebagaimana mestinya. 

Hal ini tentu harus menjadi perhatian serius lembaga Pendidikan, khususnya Satuan Pendidikan yang bernaung dibawah Kementerian Agama.

SMP Negeri Unggulan Ohoijang dan SMP Santa Theresia Langgur merupakan dua diantara sekolah di daerah ini yang menjalankan protokol kesehatan dengan baik. 

“Saya bersyukur karena hari ini proses belajar mengajar secara tatap muka dapat aktif kembali. Tentu dengan ini maka keputusan yang telah ditetapkan Pemerintah harus kita jalankan dengan baik,” ungkap Kepala sekolah SMP Negeri Unggulan Ohoijang, Piet A. Rahanra saat ditemui awak media ini di ruang kerjanya, Senin (24/8)2020).

Protokol kesehatan Covid-19 di sekolah ini pun diberlakukan sangat ketat, mulai dari  pengukuran suhu dengan thermo gun, cuci tangan di depan sekolah serta di pintu kelas, sosial dan phsycal distancing dan setiap siswa menggunakan masker. Bahkan, orang tua yang menghantar anaknya tak diizinkan masuk ke dalam lingkungan sekolah, hanya sebatas pintu gerbang masuk saja.

Lebih lanjut, Piet memaparkan, proses KBM dilaksanakan dalam dua shift dengan jumlah siswa di kelas sebanyak maksimal 18 dan minimal 16 dalam satu rombongan belajar. 

Terkait jadwal belajar setiap hari, sebut dia, untuk shift pertama dimulai dari pukul 08.00 WIT sampai dengan 09.30 WIT. Shift kedua berlangsung pukul 11.00 WIT hingga 13.40 WIT. 

“Jadi setelah shift pertama berakhir, ada jeda waktu kurang lebih 1 jam untuk memulangkan siswa pada shif pertama ini. Setelah itu, barulah dilanjutkan dengan proses shift kedua. Hal ini kami lakukan agar siswa pada shif pertama dan kedua tidak saling bertabrakan,” jelasnya.
Penerapan Protokol Kesehatan bagi Siswa di SMP Santa Theresia Langgur-Malra, Senin (24/8/2020).

Terpisah, Kepala Sekolah SMP Santa Theresia Langgur, Fransina Lerebulan mengatakan,  proses belajar mengajar pada sekolah yang dipimpinnya juga dibagi menjadi dua shift per hari dengan jumlah ruang rombongan belajar (rombel) sebanyak 12 per shift. Sedangkan jumlah siswa pada setiap ruang kelas maksimal sebanyak 18 orang.

“Jumlah siswa/i di sekolah ini sebanyak 444 orang. Dari jumlah ini, kami bagi dalam  24 rombel, 12 rombel-shift pertama dan begitu juga shif kedua sebanyak 12 rombel. Setiap rombel diisi oleh maksimal 18 siswa, namun ada juga rombel yang kurang dari jumlah itu,” imbuhnya.

Lerebulan merincikan, jadwal belajar shif pertama dimulai pada pukul 07.30 WIT-10.20 WIT. Kemudian dilanjutkan dengan shif kedua pada pukul 11.30 WIT-15.00 WIT.

“Awalnya kami menggunakan kurikulum 2013, dimana awalnya terdapat 40 jam mengajar per Minggu. Tetapi kemudian, sesuai ketentuan yang diberlakukan Pemda tentang waktu belajar di masa pandemi COVID-19, maka sudah kami pangkas menjadi 30 jam mengajar saja,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, KBM tatap muka biasanya berlangsung selama 40 menit, tapi pihaknya juga sudah mengurangi sehingga tersisa 30 menit. Begitupula beban mata pelajaran juga sudah dikurangi.

“Jadi ada beberapa mata pelajaran yang kami kurangi bebannya, misalnya mapel berdurasi 6 jam, kita kurangi menjadi 4 jam. Jumlah Guru disini sebanyak 25 orang dan itu sudah memenuhi semua mata pelajaran yang ada,” tuturnya.

Lerebulan mengaku, dalam satu shift pembelajaran diberlakukan waktu istirahat, kurang lebih 10 menit setiap peralihan jam pelajaran. Meski begitu, katanya, selama waktu istirahat itu siswa tidak diizinkan berada diluar kelas.

“Waktu istirahat yang kami berikan, yakni saat pertukaran jam pelajaran pertama ke jam berikutnya, itu selama 10 menit. Tetapi anak-anak tetap dalam ruangan. Jika mereka keluar, itu hanya dizinkan untuk ke toilet saja,” jelasnya.

Lerebulan menyatakan, pihaknya akan senantiasa menjalankan ketentuan protokol kesehatan selama masa belajar ditengah situasi pandemicovid-19. 

Protokol kesehatan yang diterapkan di sekolah ini, diantaranya penyemprotan disinfectan, cuci tangan ditempat yang telah disediakan, jaga jarak, pake masker dan juga menjaga kebersihan fasilitas dan lingkungan sekolah.

“Kami akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak terjadi penularan di sekolah ini,” tegas dia.
Kondisi KBM Tatap Muka di SMP Santa Theresia Langgur, Senin (24/8/2020). Foto/gg. 

Orang Tua Tak Beri Izin

Kepala sekolah SMPN Unggulan Ohoijang , Piet A. Rahanra mengaku, terdapat 10 orang tua siswa yang tak mengizinkan anaknya mengikuti KBM secara tatap muka di sekolah. 

Lantas, menurut dia, pihak sekolah akan melaksanakan pertemuan bersama ke 10 orang tua dimaksud guna membahas beberapa ketentuan proses belajar yang akan diikuti siswa-siswa tersebut. Rapat itu direncanakan akan digelar pada hari Sabtu (29/8/2020) nanti.

“Kesepuluh siswa ini kan berdomisili di wilayah yang jaraknya berjauhan, apalagi proses KBM sudah dimulai dan semua guru terfokus pada 2 shift yang ada saat ini. Sehingga, mungkin nanti proses pembelajaran bagi ke-10 siswa ini dilaksanakan tidak bersamaan dengan jam pelajaran di sekolah, tetapi dilaksanakan dirumah dengan jadwal yang disepakati bersama orang tua,” kata Rahanra.

Sementara itu, kondisi yang sama turut disampaikan Kepala Sekolah SMP Santa Theresia Langgur Fransina Lerebulan.

“Dari 444 siswa yang ada disekolah ini, terdapat 15 siswa yang orang tuanya tidak setuju. Tidak setuju untuk anaknya mengikuti belajar tatap muka di sekolah,” ungkap Lerebulan.

Sebagai tindak lanjut, kata dia, pihak sekolah akan melakukan pendampingan di rumah bagi ke15 siswa tersebut.

“Sesuai rencana, Guru akan melakukan pendampingan bagi siswa-siswa dimaksud setiap hari Sabtu. Mengingat sekolah ini menerapkan 5 hari jam belajar, yakni Senin-Jumat, hari Sabtu libur,” katanya.

Meskipun demikian, Lerebulan mengaku, proses pendampingan tersebut tidak dapat dilakukan secara bersamaan. Oleh karena, adanya keterbatasan tenaga.

“Tidak mungkin kalau dalam satu hari ini guru mengajar, setelah itu guru harus lagi melakukan pendampingan bagi siswa di rumah, pastinya tidak bisa. Sehingga nanti modul belajar dibagikan kepada anak-anak ini, dan dihari Sabtu barulah kami turun melakukan pendampingan bagi mereka,” tandasnya. (MN-16)


Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar