Marrin News

Pentingnya Lembaga Pengelola Destinasi Wisata di Maluku Tenggara

Kegiatan Pelatihan Tata Kelola Destinasi Wisata oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Maluku Tenggara, bertempat di Ballroom Hotel Syahfira, Selasa (18/8/2020)-Rabu (19/8/2020). Foto/AA

Malra, Marrinnews.com – Pengembangan destinasi wisata pada sejumlah ohoi (desa) di Kabupaten Maluku Tenggara, kini tengah gencar dilakukan Pemerintah dan masyarakat ohoi setempat.

Meski demikian, secara kasat mata terlihat dalam beberapa tahun terakhir ini, pengembangan itu masih lebih diprioritaskan pada pembangunan infrastruktur. Disisi lain, tata kelola pada sejumlah destinasi wisata dinilai belum memadai.

“Saat ini Maluku Tenggara memiliki 76 ragam objek daya tarik wisata dan tersebar di setiap destinasi yang ada di daerah ini. Itu tentu sangat luar biasa. Hanya saja, pengelolaannya belum baik,” ungkap Kabid Destinasi dan Industri Pariwisata Dispar Malra Budhi Toffi saat membawa materi pada gelaran pelatihan tata kelola destinasi wisata, Rabu (19/8/2020).

Menurut Toffi, kondisi tersebut lantaran tidak ada perubahan yang signifikan setiap tahunnya pada destinasi di daerah ini.

Lebih lanjut, Budhi mengatakan, tak bisa dipungkiri bahwa infrastruktur merupakan salah satu faktor utama kemajuan suatu destinasi. Infrastruktur adalah salah satu kunci penguatan aksesbilitas menuju maupun di sekitar area destinasi.

Kendati begitu, kata dia, infrastruktur bukan satu-satunya penjamin kemajuan dari destinasi wisata itu sendiri. Mengingat, kelembagaan pengelolaan destinasi wisata juga memiliki peran penting didalamnya.

“Suka atau tidak suka, harus dibentuk sebuah lembaga atau organisasi yang namanya tata kelola destinasi,” tegasnya.

Toffi menjelaskan, pembentukan sisi kelembagaaan atau pengelola sangatlah penting. Hal itu guna meningkatkan pengelolaan, pemasaran, pengembangan produk dan keberlanjutan dari potensi yang dimiliki.

Peran dari pengelola, papar dia, bertanggung jawab melakukan pengemasan, penciptaan atraksi-atraksi pendukung, penentuan master plan dan roadmap bisnis kepariwisataan di kawasan destinasi, desain branding, penentuan target pemasaran dan promosi.

“Kunci utama keberhasilan sebuah destinasi berada ditangan pengelola itu sendiri. Oleh karena itu, saya minta agar  pengelola harus bisa lebih profesional dalam mengelola destinasi wisata yang ada. Dengan demikian, destinasi bisa berkembang maju dan pada akhirnya dapat memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan,” kata Budhi.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Alexander J. Wiyono meminta agar pengelola harus memiliki master plan dan roadmap bisnis kawasan destinasi.

Mengingat, kata Alex, saat ini Dispar Malra telah mempersiapkan rencana induk pengembangan pariwisata.

“Sarana ini sangatlah penting karena bisa dibuat alur. Kalau saat ini kita tidak punya hal-hal itu,  tentunya kondisi akan tetap seperti ini. Kita harus membuat perubahan, sehingga Pariwisata di daerah ini bisa maju,” ujarnya.

Wiyono mengaku, saat ini pihaknya bersama tim anggaran tengah mendorong agar perencanaan induk dimaksud dapat segera dikerjakan.

“Saya berharap, para pengelola yang ada agar bisa bersama-sama membantu Pemda membangun destinasi wisata di Kabupaten Maluku Tenggara kedepan,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara melalui Dinas Pariwisata telah menggelar pelatihan tata kelola destinasi wisata. Kegiatan itu melibatkan 33 perwakilan pengelola dari masing-masing destinasi wisata di daerah ini.

Pelatihan tersebut berlangsung selama 3 hari, yakni pada Selasa (18/8/2020) hingga Kamis (20/8/2020) dan diselenggarakan pada dua lokasi berbeda. Hari pertama dan kedua, bertempat di Ballroom Hotel Syafira Ohoijang. Sedangkan hari terakhir digelar di lokasi objek wisata Ngur Bloat (Pasir Panjang)-Ohoi Ngilngof. (MN-16)

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar