Marrin News

Dibalik Kisah Tiga Paskibra Maluku Tenggara

Tiga Paskibra Maluku Tenggara yang Bertugas di Kantor Bupati. Butri Medelin Welerubun (Kiri), Musa Hurulean (Tengah) dan Fransisco Rafra (Kanan). Foto/GG.

Malra, Marrinnews.com – Puncak peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 75 yang ditandai dengan upacara pengibaran bendera sang Saka Merah Putih telah usai dilaksanakan, Senin (17/8/2020). 

Meski demikian, ada saja cerita-cerita unik nan haru dibalik kisah setiap insan yang turut berpartisipasi dalam upacara peringatan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia ini. Apalagi, pelaksanaannya berlangsung dalam suasana berbeda lantaran pandemi virus Corona yang turut merajai indonesia. 

Keanggotaan dan formasi Paskibra atau Paskibraka pun kena dampak Covid-19. Biasanya, anggota Paskibraka mencapai 68 orang dan dikelompokan dalam tiga formasi. Namun, formasi tersebut ditiadakan, baik di tingkat Nasional maupun daerah.

Di Maluku Tenggara, jumlah keanggotaan Paskibra tahun 2020 sebanyak 33 orang. Ke 33 putra-putri terbaik di bumi Larvul Ngabal ini merupakan perwakilan dari setiap sekolah. 

“Anggota Paskibra Malra tahun ini, berjumlah 33 orang. Namun karena aturan Pemerintah Pusat jadi kami disebarkan ke 11 Kecamatan yang ada di daerah ini. Setiap Kecamatan hanya beranggotakan tiga orang,” ungkap Fransisco Rafra (17), sang pengerek bendera pada upacara 17 Agustus yang dilaksanakan di Kantor Bupati Malra.

Siswa SMA Seminari Santo Yudas Thadeus Langgur ini mengungkapkan kesedihannya. Pasalnya, masa latihan selama kurang lebih 1 bulan dilalui bersama ke 32 anggota Paskibra lainnya. Sayangnya, formasi yang telah dilatih pun akhirnya harus mengalami perubahan. 

“Pastinya saya merasa sedih karena dari awal kan kami semua yang mengikuti pelatihan Paskibra di Malra disatukan sebagai satu pasukan. Tetapi kemudian kami dipisahkan,” ujarnya.

Bagi Rafra, kesedihan dan ketakutan itu bisa saja terobati, tetapi menjadi anggota Paskibra hanya terjadi sekali dalam hidup. Untuk itu, tugas dan tanggung jawab sebagai Paskibara harus diutamakan. 

“Sedih itu ada obatnya. Sama halnya dengan virus Corona, saya tidak takut. Tetapi yang paling saya takutkan adalah ketika saya tidak bisa mengibarkan bendera Merah Putih sebagaimana mestinya,” tegasnya.

Perubahan dan suasana hati yang sama juga sangat dirasakan oleh Butri Medelin Welerubun (16), Paskibra yang bertugas di Kantor Bupati Baru Malra.

Meski begitu, Siswi SMA Negeri 2 Malra ini mengaku bahagia dan bangga lantaran bisa terpilih dan dipercayakan melaksanakan tugas negara, meski dalam suasana yang amat berbeda.

“Ada sedihnya tapi ada bahagianya juga. Sedihnya karena tidak bisa bergabung langsung dengan pasukan 17 maupun 8 sebagaimana sebelumnya kami sudah latihan bersama. Terlepas dari itu, saya bahagia karena bendera Merah Putih masih bisa berkibar walaupun saat ini wabah virus Corona melanda Indonesia,” ujarnya.

Butri berharap, lewat pelatihan dan tugas yang telah dijalaninya sebagai Paskibra dapat membentuk mental dan kepribadiannya sebagai generasi muda yang tangguh dan berbakti kepada Nusa dan bangsa.

Senada dengan Butri, Musa Hurulean (18), Paskibra wakil SMA Negeri 1 Kei Besar mengatakan, selama masa pelatihan kurang lebih 25 hari, mereka ditempa dengan berbagai pendidikan karakter. Salah satunya tentang kedisplinan dan tanggung jawab.

Bagi sang pembentang bendera ini, saat pelatihan hingga puncak pelaksanaan tugas sebagai pengibar, dirinya cukup kesulitan karena melangkah dibawah teriknya matahari sambil bermasker. 

“Aneh memang tapi apa boleh buat, itu kan protokol yang harus dijalankan. Syukur dan terima kasih juga bagi semua yang telah mendukung, sehingga tantangan itu bisa dituntaskan dengan baik dan lancar, baik saat pengibaran maupun penurunan bendera,” tandas Musa. (MN-16)








Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar