Marrin News

Bantu Pemerintah Cegah Penyebaran Covid -19, Warga Sathean Ubah Rumahnya Jadi Area Karantina

Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara dr. Katrinje Notanubun saat mengunjungi tempat karantina di Ohio sathean
Kepala Dinas kesehatan Kabupaten Maluku Tenggara dr. Katrinje Notanubun saat mengunjungi tempat karantina di Ohio sathean

Langgur, Marrinnews.com.– Rencana Pemerintah Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) dan Kota Tual guna melakukan karantina terhadap warganya yang tiba dengan menggunakan Kapal Laut mendapat dukungan dari warganya.

Salah satunya Agustinus Warayaan warga Ohoi (Desa) Sathean yang telah secara ikhlas meruba rumahnya menjadi area karantina bagi 7 mahasiswa yang telah tiba sejak Kamis (26/3/2020), langkah tersebut juga didukung warga serta Kepala Ohoi setempat.

Selain terdorong karena anaknya merupakan salah satu dari ke - 7 mahasiswa tersebut, dirinya juga ingin berpartisipasi membantu Pemerintah dengan maren dan yelim sebagaimana kebiasaan hidup masyarakat adat kei.
 
“Anak saya salah satu dari pelaku perjalanan dari luar daerah bersama beberapa anak lain dari ohoi ini. Ketika mereka kembali ke sini demi memberikan kenyamanan bagi masyarakat, pihak keluarga serta anak-anak maka saya langsung menyediakan rumah ini khusus untuk mereka,” Ungkapnya kepada media ini, Minggu (29/3/2020).

Terhitung  7 warga diantaranya 6 mahasiswa telah ditempatkan dirumahnya sementara 1 mahasiswi pada salah satu rumah khusus milik keluarga dan telah menjalani karantina mandiri selama 4 hari.

Masa karantina akan dilakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) yaitu selama 14 hari, terhitung sejak mereka dikarantina.

Terpantau selama 4 hari menjalani masa karantina, ketujuh putra-putri Ohoi Sathean ini mendapat pengawasan intens, baik dari tenaga medis setempat maupun pihak keluarga. Bahkan prosedur larangan interaksi-kontak fisik (phsikal distancing) ataupun jarak diterapkan dengan baik.

“Setiap hari keluarga mengunjungi dan membawakan makanan serta segala keperluan yang dibutuhkan anak-anak ini. Pihak medis juga selalu datang mengecek kondisi kesehatan mereka,” ujar Pria yang keseharianya bertugas sebagai Ketua Dewan Stasi Santo Servasius Sathean-Paroki Santo Lodovikus Fa'an.

Diakuinya walaupun selama masa karantina tekanan psikis yang diterima pihak keluarga serta para pelaku perjalanan, walaupun agak kecewa, tidak menyurutkan niat dan komitmennya tentang betapa pentingnya menjalani proses karantina.

“Sebagai orang tua dan siapapun dia, pasti merasa hal itu ketika anak-anak dan atau keluarganya diperhadapkan pada situasi seperti sekarang. Anak-anak kami tidak bermaksud datang untuk membuat masyarakat resah. Tetapi apa pun itu, kami sebagai orang tua akan berupaya semaksimal mungkin untuk anak-anak selama masa karantina,” ujarnya dengan raut wajah yang tampak sedih.

“Ini juga merupakan bentuk dukungan kami terhadap upaya Pemerintah daerah dalam menangani pencegahan Covid-19,” Tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Maluku Tenggara dr. Katrinje Notanubun menjelaskan proses karantina bagi setiap pelaku perjalanan, bukanlah untuk menakuti-nakuti masyarakat. Melainkan suatu proses penanganan sistematis guna mengatinsipasi sekaligus mencegah penyebaran virus itu sendiri.

Meski begitu, setiap pelaku perjalanan yang dikarantina harus dihargai dan diapresiasi dan tidak boleh di vonis sebagai penderita, selain karena ada tahapanya juga butuh pembuktian secara medis.

“Mereka (Pelaku Perjalanan) saat ini bukanlah pasien penderita, mereka adalah warga kita yang kebetulan melakukan perjalanan dari luar daerah. Namun, untuk memberikan kenyamanan bagi setiap warga dengan dasar riwayat perjalanan itu maka harus dikarantina, meski mereka dalam keadaan sehat,” jelas Notanubun saat mengunjungi lokasi karantina di Ohoi Sathean, Minggu (29/3/2020).

Dalam masa karantina selama 14 hari, aktivitas dan kondisi kesehatan pelaku perjalanan akan terus dipantau. Apabila nantinya ada gejala-gejala yang muncul, maka penanganan akan lebih mudah. Sebaliknya, jika kondisi kesehatan dalam keadaan baik maka setelah masa karantina, pelaku perjalanan akan dipulangkan ke rumahnya.

“Kondisi ini bukanlah aib yang harus diperdebatkan. setiap orang dalam hal ini pelaku perjalanan pastinya tidak menginginkan berada dalam situasi demikian, tapi apa boleh dikata.  mari kita saling memberikan dukungan tanpa menghadirkan penilaian buruk bagi orang disekitar. Hal ini agar tidak menimbulkan kekhawatiran dan kecemasan berlebihan yang mengakibatkan dampak lain,” pintanya.

Karantina mandiri yang telah dibentuk warga Ohoi Sathean menjadi hal positif yang harus diteladani bagi seluruh Ohoi-desa di Kepulauan Kei. Untuk itu, selaku Kepala Dinas kesehatan, dr. Ketty menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada warga masyarakat setempat. (Gerry)


Editor : Ridwan Kalengkongan

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar