Marrin News

Artikel – Mau dibawah Kemana Kerajinan Tangan Warga Tayando

Tayando, Marrin News.com.- Tidak ada informasi yang pasti sejak kapan kerajinan tangan menjadi mata pencaharian sebagian warga Tayando. Meski begitu hasil kerajinan mereka yang beraneka ragam lumayan bagus dan halus, menandakan bahwa pekerjaan ini bukan sesuatu yang baru. Atau setidaknya dikerjakan oleh orang-orang yang bersungguh-sungguh dan berbakat seni. Ibu Ona, salah satu pengrajin anyaman berbahan baku daun pandan dengan berbagai hasil diantaranya tikar, topi dan aneka bentuk tas mengatakan bahwa dari kerajinan ini ia berhasil menyekolahkan anak-anaknya sampai menjadi sarjana.

“Saat ini berbagai kelompok kerajinan dibentuk guna menjadikan aktifitas ini bisa lebih produktif dan bermanfaat luas,” Ujarnya Kepada TPID.

Dijelaskannya, Pengembangan dilakukan dengan dua cara pertama dengan memberi pelatihan tambahan bagi anggota kelompok untuk penganekaragaman hasil serta memperbaiki tampilan hasil akhir. Menurutnya pelatihan ini sudah dilakukan beberapa kali, bahkan dengan mengikutkan beberapa perwakilan ke Tasikmalaya, Jawa Barat di beberapa bengkel kerja kerajinan anyaman. Hasilnya berupa teknik pewarnaan dan penganekaragaman hasil selain tikar. Kedua, dengan berupaya terus menerus menemukan berbagai bentuk bahan baku untuk pengembangan bentuk-bentuk kerajinan baru.


Salah satu hasil kerajinan tangan warga Tayando
Saat ini kerajinan tangan dari Tayando mulai banyak dikenal sampai luar daerah. Beberapa hasil kerajinan berupa gelang dan cincin kayu mulai dipesan oleh konsumen dari Jawa. Dari hasil capturing oleh Tim Pelaksana Inovasi Desa Kecamatan Tayando-Tam diperoleh beberapa faktor yang menjadi penghambat perkembangan industri kerajinan di Tayando. Pertama, sebagai mata pencaharian kerajinan di Tayando belum memiliki faktor daya ungkit yang bisa meningkatkan ke skala usaha kecil yang berkelanjutan. Hal ini disebabkan oleh posisi Tayando yang terhitung jauh dari pusat kota (3 jam perjalanan dengan kapal milik ASDP).

Kedua, daya ungkit ini belum terasa karena konsumen belum teridentifikasi. Sejauh ini tidak banyak pelancong yang mampir dan tinggal di Tayando, sehingga potensi konsumen di tempat belum bisa mengangkat skala usaha rumah tangga ini.

Ketiga, pemerintah belum serius mendampingi dan membuka akses pasar bagi pengrajin Tayando. Sejauh ini hasil produksi pengrajin masih tergantung pada pesanan yang jumlahnya tidak seberapa banyak. Ada kesan bahwa kerajinan ini hanya didorong oleh hobi, sehingga peran serta pemerintah, baik pemerintah desa dengan mengintegrasikannya ke dalam program desa, maupun pemerintah kota melalui pendampingan dan promosi lebih luas bisa menjadi jembatan bagi pengrajin untuk beralih ke usaha kecil yang berkesinambungan.

Oleh Rahmat Renhoat.
Penulis Adalah Tim Pendamping Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Tayando Tam




Editor : Ridwan Kalengkongan

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar