Marrin News

Kemesraan Uskup Agung Merauke-Bupati Malra di Peletakan Batu Pertama Pastoran Ohoijang

 

Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC dan Bupati Maluku Tenggara M. Thaher Hanubun saat Prosesi Peletakan Batu Pertama Pastoran Paroki Santo Yosep Ohoijang, Minggu (15/11/2020).
 
Langgur (Ohoijang), Marrinnews.com - Uskup Agung Metropolitan Merauke Mgr. Petrus Canisius Mandagi bersama Bupati Maluku Tenggara Muhamad Thaher Hanubun meletakan batu pertama pembangunan Pastoran Paroki Santo Yosep Ohoijang, Minggu (15/11/2020). 

Turut hadir dalam kegiatan ini, Wakil Ketua DRPD Malra Yohanis Bosco Rahawarin dan Dandim 1503/Tual Letkol Inf. Mario Christian Noya serta Tokoh Adat, Pemuda dan Pemerintahan lainnya. 

Prosesi peletakan batu pertama diawali dengan ritual adat oleh petuah adat. Selanjutnya, upacara doa dan pemberkatan batu penjuru oleh Uskup Petrus Mandagi. Dalam prosesi ini, Uskup didampingi Wakil Uskup Wilayah Kei Kecil RD. Eko Reyaan dan Pastor Paroki Ohoijang RD. Sandro Letsoin. 

Usai itu, Uskup Mandagi dan Bupati Hanubun memasuki tempat pencanangan dan melakukan peletakan batu pertama secara bergantian. Uskup terlebih dahulu meletakan batu pertama. 

Sesaat kemudian, Bupati Hanubun ikut jongkok bersama Uskup Mandagi. Bupati terlihat menyemen batu yang diletakan Uskup. Setelah proses serimonial itu, kedua tokoh Agama dan Pemerintah ini beranjak kembali menaiki tangga. 

Saat menaiki tangga, Bupati terlihat sesekali berusaha untuk menopang Uskup. Hal itu karena ia khawatir dengan kondisi fisik sang Uskup. 

Bangunan Pastoran tersebut berada di dalam lingkungan Gereja Santo Yosep Ohoijang, Jalan Soekarno-Hatta, Kabupaten Maluku Tenggara. 

Uskup Agung Merauke, Petrus Canisius Mandagi dalam homili singkatnya saat itu mengatakan, pembangunan suatu bangunan harus dilandasi dengan fondasi yang kuat. Hal itu agar meski gempa dan badai topan yang menghantamnya sekalipun, bangunan tersebut takan runtuh. 

Fondasi itu, jelas Mandagi, bangunan  ini melambangkan rumah kediaman bagi Imam atau Pastor. Dengan begitu, Pastor yang nantinya mendiami Pastoran tersebut, harus memiliki dasar iman yang kuat dalam hidup. 

"Pastor yang nantinya akan tinggal di rumah ini harus mempunyai dasar yang kuat dalam hidup. Dasar itu, yakni mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya dalam kehidupan bermasyarakat," katanya. 

Administrator Apostolik Keuskupan Amboina ini mengingatkan, apabila kedua landasan itu tidak dijalankan sebagaimana mestinya, dipastikan sang Imam akan runtuh. 

"Kalau tidak, maka bukannya rumah yang roboh tapi Pastor yang roboh,  karena tidak punya dasar hidup rohani yang kuat," tegasnya. 

"Kalau kita umat Kristiani, dasarnya adalah Kristus. Mendengarkan sabda-Nya, tetapi juga harus melaksanakannya. Dengan begitu kita akan tampil sebagai orang beragama yang kuat...kuat...kuat pada hantaman apapun, pasti kita takan runtuh," imbuh sang Uskup. 

Lebih lanjut, Uskup Mandagi menyatakan, landasan iman yang dimaksudkannya, bukan saja merujuk pada para Pastor, melainkan juga umat Katolik di wilayah Kepulauan Kei. 

"Kalau kita beragama, beragama lah yang benar. Jangan beragama asal-asalan, cuman nama Katolik tetapi kelakuan kafir," pinta Uskup Agung. 

Uskup Agung Merauke Mgr. P.
C. Mandagi dan Bupati Malra M. Thaher Hanubun di Tandu Umat Paroki Ohoijang. FOTO/Dok. Ghege. 
Suguhan Tarian Perarakan oleh Umat Paroki Ohoijang. FOTO/Dok. Ghege. 
Sebelum pelaksanaan peletakan batu pertama, Uskup Agung Merauke Mgr. Petrus Canisius  Mandagi bersama Bupati Hanubun dan rombongan disambut dengan prosesi ritual adat oleh tetuah adat di perempatan Ohoi Ohoijang-Lampu Merah. 

Usai penyambutan itu, Uskup dan Bupati diarak dengan tandu hingga di pelataran Gereja Santo Yosep Ohoijang. Dalam perarakakan itu, diiringi dengan dentungan tipa gong serta tarian sawat. Umat setempat tampak begitu antusias menyambut kehadiran sang Uskup dan Bupati. (Ghege) 

Baca Juga

Masukkan Kata Kunci atau ESC Untuk Keluar